Categories
Parenting

Lebih Bahagia, Lebih Mudah Hamil

Jika stres tak terkelola dengan baik, tekanannya terus bertambah, dirasakan secara sadar atau tidak, dampaknya bisa sangat beragam. Salah satunya, Mama mengalami masalah kesuburan sehingga lebih sulit mendapatkan kehamilan. Padahal untuk hamil, Mama perlu mendapatkan masa subur sehingga pembuahan berjalan dengan baik. Benarkah demikian? Menurut Allen Morgan, MD, direktur Shore Institute for Reproductive Medicine di New Jersey, AS, dalam sebuah jurnal, ini mungkin saja terjadi meski tidak secara langsung karena secara ilmiah hubungan langsung tersebut belum ditemukan.

Baca juga : kursus bahasa Jerman di Jakarta

Maksudnya, tidak seperti kasus kanker ovarium, misalnya, yang secara langsung dapat menghambat Mama untuk hamil. Stres lebih ke arah gangguan terhadap keseimbangan produksi hormon, seperti meningkatnya hormon kortisol dan epinephrine yang akan memengaruhi kesuburan Mama. Morgan dan para dokter melakukan perbandingan antara pasangan yang mengalami stres dantidak.

Hasilnya ditemukan bahwa pasangan yang bahagia, santai dalam menjalani rutinitas, tidak begitu tertekan, lebih mudah mendapatkan kehamilan dibandingkan pasangan yang mengalami stres, sering tegang dan lelah, dan hidup yang penuh dengan tekanan. Hasil perbandingan ini dirilis di jurnal Human Reproduction. Masih menurut Morgan , saat tidak stres, protein di dalam rahim Mama meningkat sehingga Mama akan lebih subur dan kemungkinan terjadi pembuahan semakin besar.

Mengganggu Siklus Kesuburan

Tony Weschler, pendiri Fertility Awareness Counseling and Training Seminars (FACTS), juga menyatakan bahwa stres bisa mengganggu kesuburan Mama. Kinerja hipotalamus, selain mengatur emosi, suhu tubuh, denyut jantung, tekanan darah, juga mengatur hormon yang memerintahkan ovarium untuk melepaskan sel telur. Intinya, stres bisa menunda kesuburan Mama sehingga kesempatan Mama untuk mendapatkan kehamilan pun bisa saja tertunda. Jika stres terus berkelanjutan bisa saja pelepasan sel telur tertunda menjadi lebih lama.

Masa subur ditandai dengan pengeluaran sel telur matang dari indung telur. Biasanya terjadi di antara hari ke 12-18 usai menstruasi. Bila seorang perempuan mengalami stres, maka masa subur bisa terganggu, menjadi tidak teratur atau sama sekali tidak subur. Sebab, proses keluarnya sel telur (ovulasi) dipengaruhi kinerja hipotalamus hipofi sis di dalam otak yang memengaruhi pengeluaran hormonhormon yang mematangkan dan mengeluarkan sel telur.

Misalnya, sebelum dilepas, sel telur dimatangkan oleh estrogen. Di sini akan terjadi peningkatan hormon FSH (Follical Stimulating Hormon) dan LH (Luteinizing Hormon) sehingga telur bisa dikeluarkan. Nah, kestabilan ini akan terganggu jika Mama mengalami stres yang membuat sel telur tidak matang dan tidak dapat keluar. Menjelang ovulasi pun biasanya produksi lendir serviks (cervical mucus) meningkat dan Mama dianggap sedang menuju atau mengalami masa subur.

Tetapi ketika stres, produksi lendir serviks berkurang atau malah kering yang menurunkan tingkat kesuburan Mama. Jika siklus yang tidak teratur ini terus-menerus terjadi, maka level kesuburan Mama bisa terus turun. Pada kondisi stres pun, produksi hormon kortisol meningkat yang dapat menyebabkan kemampuan reproduksi terganggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *