Siapkah Si Kecil Toilet Training Bag3

Kejadian yang mungkin dianggap remeh, seperti terpeleset, atau merasakan sensasi dingin saat duduk di kloset pada pagi hari, dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman yang membuat anak enggan mengulangi hal tersebut. Karena itulah, buatlah suasana toilet yang menyenangkan untuk anak. Tempel hiasan-hiasan menarik, perhatikan pencahayaannya, dan tentu jaga kebersihannya.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman Full

“Orangtua tidak perlu berkecil hati apabila gagal. Berikanlah waktu pada anak selama beberapa saat untuk kemudian memulai lagi toilet training,” saran Nurul. Hal ini baik karena dapat membuat anak melepaskan rasa tidak nyamannya dan Mama-Papa pun sudah lebih tenang untuk kembali memulai proses toilet training.

Tentunya waktu istirahat jangan terlalu lama sehingga tidak sulit bagi orangtua untuk mengingatkan kembali kepada anak. Selain itu, evaluasi kembali penyebab kegagalan toilet training sehingga pada proses selanjutnya hal tersebut dapat dihindari. “Hal penting yang perlu diingat bagi setiap orangtua adalah untuk tetap semangat, sabar, dan konsisten dalam menjalankan proses toilet training untuk buah hatinya,” tutup Nurul.

Setinggi Apa Bayi Mama Saat Besar Nanti?

Ternyata, bukan hanya faktor genetik yang berpengaruh terhadap tinggi badan anak, melainkan juga lingkungan tempat tinggalnya saat bayi. Menurut temuan yang dimuat di Journal of Pediatrics, lingkungan kehidupan bayi sejak dalam kandungan hingga berusia sekitar 1 tahun akan menentukan tinggi badannya di masa dewasa. Studi ini dilakukan oleh para pakar dari Technion-Israel Institute of Technology, Tel Aviv University dan Bnai Zion Hospital.

“Faktor genetik memang menentukan tinggi badan seseorang, tapi jangan lupakan juga faktor lingkungan, seperti kondisi di kandungan, status nutrisi dan kesehatan selama 1 tahun pertama, struktur keluarga dan kondisi orangtua, serta situasi ekonomi dan emosional yang menyertainya. Faktor eksternal ini berpengaruh 50% terhadap pertumbuhan dan tinggi badan anak.

Anak yang lahir di lingkungan yang kekurangan nutrisi cenderung lebih pendek, sementara anak yang lahir di lingkungan yang baik akan lebih tinggi,” papar Profesor Ze’ev Hochberg, salah satu pakar yang terlibat dalam penelitian. Dari studi ini, diharapkan orangtua bisa membantu menyediakan lingkungan yang baik bagi bayinya agar bisa tumbuh dengan baik dan sehat.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *