Categories
Resep

Tips Mengembangkan Usaha Catering Nasi Tumpeng Jakarta

Tips Mengembangkan Usaha Catering Nasi Tumpeng Jakarta Setiap masalah dalam usaha selalu ada solusinya, apabila kita mencoba untuk berpikir mencari jalan keluarnya. Masalah yang muncul akan membuat Anda lebih mengerti seluk beluk usaha, masalah yang sering terjadi, dan cara menyelesaikannya. Ini adalah pengalaman berharga, sehingga Anda akan semakin mahir dalam menjalankan bisnis yang digeluti. Bila saat ini sudah ada pihak lain yang membantu dalam penjualan produk, berarti peran Anda dalam usaha sudah agak berkurang. Namun soal produksi, masih butuh peran Anda dalam pelaksanaannya.

Semakin berkembang sebuah usaha, tentu akan meningkat pula kegiatan produksi dan penjualannya. Anda tak bisa mengatasi ini sendiri. Dalam hal ini, langkah Anda sudah tepat mempekerjakan karyawan. Hanya saja perlu membuat sistem aturan kerja yang terkoordinasi. Sehingga karyawan bisa bekerja sesuai standar yang dikehendaki pemilik usaha, termasuk standar rasa produk. Beban kerja dan keletihan Anda pun akan berkurang.

Nah, berikut ini saya beri masukan dalam membuat aturan kerja karyawan pada produksi usaha rumahan. Bukan aturan jam kerja, hak dan kewajiban, atau lainnya. Tetapi lebih ke aturan sistem kerja atau SOP (Standard Operating Procedur) di bagian produksi.

1. Alur Produksi Langkah pertama dimulai dari membuat alur produksi atau proses produksi dari awal sampai akhir. Contoh alur produksi untuk membuat lauk kering, misalnya kering kentang: (a) Belanja Bahan (b) Penyiangan Bahan (c) Penimbangan Bahan (d) Peracikan Bumbu (e) Penggorengan Bahan-bahan (f) Pencampuran Bahan dan Bumbu (g) Pengemasan

2. Standardisasi Bahan Baku Membuat standardisasi bahan baku perlu dilakukan, terutama jika Anda ingin mendapatkan rasa yang sama (konsisten) agar tak di komplain pembeli. Pertama, buat daftar bahan baku untuk sekali produksi. Lalu jumlah kebutuhan bahan baku lengkap dengan ukuran/takaran. Usahakan semua diukur dalam gram untuk bahan kering dan ml untuk bahan cairan. Selain ukuran, jenis dan merek bahan yang digunakan harus selalu sama untuk setiap produksi. Standardisasi bahan ini bisa Anda masukkan aturannya ke dalam alur pada tahapan (a) sampai (g) di atas.

3. Standardisasi Alat Anda juga perlu membuat standardisasi alat agar dapat melakukan persiapan sebelum proses produksi dimulai, yang akan berdampak pada efisiensi kerja. Contoh, pada proses penimbangan bahan pasti perlu wadah, gelas ukur, dan timbangan digital. Pada proses menggoreng bahan, dibutuhkan wajan yang ukurannya perlu disesuaikan dengan jumlah bahan.

4. Standardisasi Cara dan Waktu Langkah ke-4 ini perlu perhatian khusus saat dibuat aturannya. Bahan dan alat yang sudah distandardisasi namun cara pengerjaannya tak terstandar, bisa jadi hasilnya juga berbeda. Kuncikunci penting dimulai dari penyiangan. Anda harus memberi secara detail cara menyiangi bahan, misalnya memotong bahan. Untuk membuat lauk kering kentang, perlu diatur ketipisan potongan kentangnya, panjang potongannya, dan sebagainya. Selain itu, durasi memasak juga perlu dicantumkan pada pengolahan agar hasil masakan konsisten, tak ada yang gosong separuh atau bahkan belum matang. Tujuan dari standardisasi ini adalah agar siapa pun yang mengerjakan, hasilnya sama.

5. Menentukan yang Mengerjakan Setelah semua hal di atas distandardisasi, alangkah lebih baik jika setiap tahap dalam alur produksi (a) sampai (g) tercantum siapa yang bertanggung jawab. Jika awalnya hanya ada 2 karyawan yang membantu, tetap perlu diberi pembagian tugasnya. Siapa yang menimbang dan menyiangi, siapa yang mengolah. Tujuannya, agar tenaga kerja bisa mengetahui secara jelas tugas dan tanggung jawabnya. Semoga dengan membuat sistem alur pada produksi, bisa membuat Anda lebih ringan dalam menjalankan usaha dan tentunya dapat memperoleh hasil produk yang konsisten.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *