Anak Populer Masa Kini Bagian 2

Kembangkan Kemampuan Sosial

Nah, bagi Mama Papa dengan anak yang mengidolakan temannya ataupun sebaliknya, dorong terus untuk selalu memperluas pertemanan. Tak hanya di sekolah, melainkan juga di lingkungan rumah. Masa-masa duduk di bangku TK adalah momen dimana mereka mulai mengembangkan kemampuan sosial. Kelak, pada beberapa tahun ke depan, kemampuan ini dibutuhkan untuk membentuk persahabatan. Selain itu, ketika anak berteman, baik sebagai idola ataupun yang diidolakan, tetap perhatikan plus-minus yang mungkin terjadi. Bila teman yang diidolakan atau sebaliknya bisa membawa pengaruh positif, anak akan terpacu untuk belajar berbagi mainan atau berbagai kue/ makanan, misal. Sebaliknya, akibat negatif juga perlu diwaspadai karena pertemanan ini.

Misalnya, anak meniru temannya itu yang ternyata cenderung bossy atau suka main perintah pada orangtua/ pengasuhnya. Adakalanya anak-anak seperti ”lupa diri” kalau sudah bermain. Alih-alih istirahat siang/sore, justru seharian mereka bermain. Untuk itu, perlu dibatasi waktu bermain mereka, setidaknya 1—2 jam. Selain si prasekolah ada waktu untuk tidur/istirahat siang/sore, juga bila terlalu lama bisa membuat anak kelelahan nantinya. Beri tahu si prasekolah dan temannya bahwa kegiatan bermain sudah selesai dan bisa dilanjutkan kembali esok hari.

Di sini si prasekolah sekaligus belajar untuk menaati jadwal hariannya. Umumnya, si prasekolah pada tahapan ini ”mengidolakan” temannya yang sama jenis kelaminnya, teman sepermainan di sekolah atau di sekitar rumah. Selanjutnya mereka semakin akrab dan masing-masing cepat menyesuaikan diri sehingga seperti teman dekat atau sahabat. Tapi jangan heran, adakalanya mereka juga ”bertengkar”, entah karena memperebutkan sesuatu mainan atau masing-masing ngotot memaksakan temannya untuk melakukan suatu akvitas tertentu. Bila hal tersebut terjadi, Mama bisa mencoba untuk menjadi penengah atau mediator atas pertikaian yang berlangsung. Misalnya, anak ingin bermain pasel tapi temannya lebih suka mewarnai gambar. Mama perlu memahami bahwa si prasekolah dan temannya ingin melakukan hal berbeda. Tanyakan, kira-kira permainan apa yang bisa dilakukan bersama.

Anak Populer Masa Kini

Anak yang mudah beradaptasi, umumnya lebih disukai dalam pergaulan. Tak heran bila ia cukup populer di kalangan temantemannya. “Dian… Dian… main, yuuuk…!” Kata-kata itu diucapkan berulang dengan kompak oleh suara-suara mungil dari balik pagar rumah. Terlihat dua gadis cilik berdiri sambil memegang mainan. Dian yang sedang mewarnai gambar di ruang keluarga, langsung bergegas membuka pintu rumah. Ia tampak senang menyambut temantemannya. Kedua bocah cilik itu pun sumringah begitu melihat Dian muncul dari balik gerbang.

Ketiganya lalu asyik bermain, mereka ketawa-ketiwi bersama. Esok harinya, kembali Dian disambangi teman-temannya. Begitu seterusnya setiap hari, seolah menjadi rutinitas bagi mereka untuk bermain bersama. Pernah suatu ketika, Dian rupanya tertidur sore itu. Kedua teman yang memanggil-manggilnya di balik pagar tak percaya kalau dibilang saat itu Dian sedang tidur, seolah bermain tanpa Dian tidaklah lengkap.

Lucunya lagi, pernah suatu ketika, kedua temannya ini seperti sedang “memperebutkan” Dian. Salah seorang teman menarik tangan kiri Dian dan teman yang satunya lagi menarik tangan kanan Dian. Kedua temannya itu menangis, masing-masing merasa Dian sebagai “milik”-nya. Ya, anak usia prasekolah makin suka bersosialisasi, membangun pertemanan, bahkan mulai memiliki teman akrab. Mereka tak hanya memiliki teman sepermainan di “sekolah”, akan tetapi juga punya banyak teman di lingkungan rumah.

Jangan heran kalau beberapa di antara anak itu ternyata paling disukai oleh teman-temannya, seperti Dian pada ilustrasi di atas. Alhasil, ketika sang teman yang jadi idola ini tak masuk “sekolah” atau tak ada di rumahnya, pun tak bisa bermain karena sedang sakit atau tidur siang, mereka merasa kehilangan dan kurang asyik kalau tak bermain dengannya. Inilah mungkin cikalbakal munculnya persahabatan.

Gampang Beradaptasi

Lalu, kenapa sih ada anak yang bisa menjadi “idola” bagi temantemannya? Tentu ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hal itu. Boleh jadi, anak yang disukai ini memang “pembawaannya” menyenangkan sehingga temantemannya merasa tenteram, nyaman, dan senang sekali bila bermain bersamanya. Selain itu, mereka memiliki pola, minat, serta cara bermain yang hampir sama sehingga masing-masing merasa ada kecocokan. Klop.

Tak hanya itu, ada faktor lain yang menjadikan anak favorit bagi teman-temannya, yaitu temperamen yang notabene berperan cukup besar ketika ia berinteraksi dengan temantemannya. Secara umum, temperamen anak dibagi menjadi 3 yaitu easy child, slow to warm up child, dan di­ cult child. Nah, anak yang easy child merupakan sosok yang mudah berdaptasi terhadap lingkungan baru. Anak seperti ini juga berespons dengan baik terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, sehingga ketika menghadapi tekanan, cenderung lebih mudah mengatasinya.

Ia juga ramah dan mudah tersenyum dengan orang lain, bahkan orang baru yang ditemuinya. Si prasekolah yang memiliki temperamen easy child inilah yang kemudian lebih menjadi favorit di antara teman-temannya. Ia terlihat happy dan enjoy ketika bersama teman-temannya. Ia juga mudah menerima teman-teman baru. Tak heran bila ia pun menjadi lebih populer dari anak lainnya.

Berikut adalah informasi lengkap mengenai kursus IELTS di Jakarta yang terbaik untuk persiapan sebelum menghadapi tes tersebut.

Stimulasi Berbagai Kemampuan

Kegiatan di outdoor sangat beragam. Mama Papa dapat menciptakan sendiri aktivitas fun bersama si batita. Yang penting, melalui kegiatan itu, si kecil dapat berjalan, berlari, melompat, melatih keseimbangan, bergulingguling di tanah yang berumput, sesuai dengan kemampuan batita. Cobalah keseruan menangkap dan melempar bola atau sekadar berjalan bergandengan tangan sambil memberitahu si kecil nama-nama tanaman yang dilewati. Pelan-pelan boleh Mama Papa latih si batita menggunakan alat bermain seperti perosotan. Dalam hal ini, Mama atau Papa menunggu di bawah saat anak akan merosot. Begitu pula main ayunan dengan tetap dibimbing dan didampingi supaya aman.

Pagi dan Sore

Mengajak anak bermain di luar rumah (ke taman dekat kompleks, misalnya) bisa dilakukan kapan saja, terutama jika cuaca cerah. Biasanya sebelum jam 10 pagi, karena matahari pagi bagus untuk kesehatan kulit si kecil, dan sore hari saat matahari mulai condong ke barat, sebelum gelap/malam. Untuk tahap awal, cukup ajak si batita 10 sampai 15 menit per tiga hari. Kalau si batita mulai terbiasa, dapat kita atur kedatangan ke taman setiap pagi atau sore. Sesekali dapat diajak ke taman yang agak jauh dari rumah serta tempat yang lebih luas seperti kebun raya.

Menjaga Keselamatan Anak

Umumnya, orangtua tak mengizinkan anak bermain di luar rumah karena khawatir dengan adanya penculikan, selain takut anaknya jatuh dan terluka. Hal ini wajar saja karena setiap orangtua pasti memikirkan keselamatan anak-anaknya. Hanya saja, jangan sampai kekhawatiran/ketakutan tersebut membuat Mama Papa jadi melarang anak bermain di luar rumah. Poin pentingnya adalah Mama Papa harus tahu pasti lingkungan luar yang hendak dijadikan tempat bermain anak dan selalu berikan pengawasan untuk memastikan keselamatan anak. Mama Papa juga harus mengajarkan berbagai tindakan pencegahan yang bisa anak lakukan. Misalnya, minta anak untuk berteriak jika ada orang asing yang mengajak pergi. Ajarkan juga pada si kecil untuk meminta bantuan pada orang dewasa seperti polisi, satpam, atau petugas lainnya. Tekankan juga kalau anak tidak boleh pergi tanpa sepengetahuan Mama Papa.

Pilihan Tempat Beragam

Tentu tidak sembarang tempat bisa dijadikan tempat bermain anak. Carilah tempat dimana batita dapat aktif tapi aman. Baiknya, tempat tersebut sudah pernah dikunjungi sebelumnya, sehingga Mama Papa tahu bagaimana kondisi lingkungan tersebut. Misal, taman di kompleks perumahan yang umumnya tak terlalu banyak orang. Mama Papa dapat membawa batita ke tempat ini berkali-kali sehingga ia pun hafal dengan kondisi taman kompleks. Mama Papa juga bisa kenalkan taman kota yang ada rumputnya sehingga kalau jatuh tak menimbulkan luka. Pilihan lainnya ke kebun raya seperti Kebun Raya Bogor. Namun pilih tempat yang sejuk atau tak terkena panas matahari langsung serta aman. Selain itu, pilih tempat yang agak sepi supaya anak lebih fokus bergerak. Bisa juga kita mengajak si batita ke taman bunga bila lokasinya dekat dengan rumah. Kalau Taman Bunga di daerah puncak terlalu jauh karena batita bisa lelah. Juga kurang disarankan bila si kecil diajak ke tempat-tempat ramai seperti Monumen Nasional (monas) karena terlalu ramai dan kurang banyak pepohonan sehingga batita bisa kepanasan.

Perhatikan Kenyamanan

Agar si batita mendapatkan stimulasinya secara optimal ketika berada di outdoor, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan Mama Papa, yaitu: * Pakaikan celana/baju yang nyaman, misalnya berbahan kaus. * Pakai celana panjang atau legging bagi anak perempuan untuk menjaga anak agak tidak lecet kalau terjatuh. * Boleh pakai topi, namun ukurannya harus pas. Jangan sampai kesempitan atau kebesaran hingga melorot yang malah menutupi pandangan anak. * Meski bermain di taman dekat rumah, jangan lupa bawa minuman dan makanan. Jika tiba-tiba si batita merasa haus atau lapar, Mama Papa sudah siap, tak usah pulang dulu. * Ingatkan anak untuk jeda sebentar, minum, lalu mengambil napas panjang untuk memasukkan oksigen ke dalam paru. Dengan begitu pernapasannya dan sirkulasi darah menjadi lancar. * Perhatikan keamanan dari hewan yang biasa ada di taman, semisal: kucing, nyamuk, lalat, cacing. Untuk menghindari gigitan nyamuk, Mama bisa mengoleskan krim/losion antinyamuk yang aman bagi anak. * Cari tempat yang rata dan berumput untuk mengamankan dari jatuh dan luka atau lecet ketimbang bermain di atas lantai bersemen. * Pilih area yang tak terlalu ramai dengan anak-anak yang lebih besar, misalnya anak yang menggunakan sepeda karena berisiko menabrak si batita.

Simak juga informasi lengkap mengenai tempat terbaik untuk kursus bahasa Perancis di Jakarta bagi Anda yang ingin mahir dalam berbahasa Perancis.